Curhatan pertama di hari pertama tahun 2013. Happy New Year, guys! ^^
Topik utama ketika kita menjumpai tahun baru adalah resolusi. Banyak orang merencanakan target, membuat resolusi untuk bisa dicapai. Banyak orang juga yang membuat resolusi besar untuk hidup mereka. Hmmm, aku juga punya keinginan yang ingin sekali kuwujudkan di tahun ini. Tapi itu bukanlah hal besar seperti punya kalian.
Sebenarnya setiap hari itu adalah resolusi dan setiap hari pula kita berusaha mewujudkannya. Selama ini memang aku masih payah banget. Setelah memikirkan apa yang ingin kulakukan di tahun baru ini, akhirnya aku menemukan apa yang benar-benar jadi keinginanku. Well, ini dia rinciannya:
1. Membiasakan untuk makan-minum dengan duduk.
2. Membiasakan berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu.
Nah, bukan hal besar kan? Tapi yang kecil itulah yang sering terlupakan dan aku ingin menghidupkannya kembali. Umm sebenarnya ada satu hal besar yang ingin sekali kucapai. Wisuda? Oh, bukan. Itu insyaalloh akan segera tercapai, doakan. Well, sebenarnya...aku ingin sekali tahun ini bisa menemukan Mr. Right =). awww it's embarassing... *blushing*
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Januari 01, 2013
Juli 24, 2012
Keadilan yang coba kuberikan
Aku sedang
mempertanyakan satu hal, perlukah aku meminta maaf?
Aku punya beberapa
teman dekat, di antaranya Gina dan Akyun. Begitu dekatnya kami sehingga sudah
seperti keluarga sendiri. Nous partageons
beaucoup de choses, termasuk masalah cowok. Singkat cerita, ada masalah
antara Gina dan Akyun, tentang cowok. Dalam hal ini, aku merasa yang paling
dilema. Sebagai sahabat, aku seharusnya bisa menengahi mereka berdua, berlaku
adil bagi keduanya. Tapi kembali lagi sebagai manusia, kadang aku masih berlaku
subjektif, walaupun aku sudah merasa itu adalah adil.
Bagi Gina, untuk
memaafkan kesalahan Akyun, adalah hal yang sangat sulit, bahkan mungkin
mustahil. Terlalu sakit, katanya, dan ia tak pernah bisa mentolerir orang yang
sudah merusak kepercayaannya. Bagi Akyun, ia merasa bersalah sudah merusak apa
yang dipercayakan padanya, tetapi ia tak bisa mengelak karena ia
membutuhkannya. Dan untuk itu ia sangat meminta maaf. Bagiku, semua orang bisa
saja melakukan kesalahan dan kekhilafan. Dan menurutku, seolah-olah tak ada
yang bisa disalahkan jika itu adalah masalah hati dan perasaan.
Selama ini baik
Gina maupun Akyun, mereka selalu cerita padaku tentang masalah itu. Dan selama
ini pula aku selalu meminta Gina untuk memaafkan Akyun. Aku juga selalu meminta
Akyun untuk meminta maaf pada Gina. Sudah kira-kira dua tahun ini hubungan
mereka membaik, mendekati normal seperti dulu.
Tapi beberapa hari
yang lalu, Gina cerita ke aku lagi, katanya, ia teringat dengan kejadian itu
dan merasa sakit. Ahh, itu lagi. Kupikir sudah selesai. Jujur, aku sudah tak
mau lagi membahas itu karena kurasa itu sudah menjadi masalah mereka berdua.
Aku tak mau masalah mereka berdua itu merusak pertemanan kami, baik aku dengan
mereka berdua, maupun aku dengan yang lainnya, karena ternyata itu kenyataannya.
Akyun, pada saat yang sama, juga mengadu padaku, bahwa Gina ternyata bisa belum
bisa memaafkannya.
Oke, sekarang aku
ingin tahu apa maunya. “Aku pengen tahu, sebenarnya kamu ada niat untuk maafin dia ga?”. “Engga”, katanya.
Hmm, mau apa lagi? Orang dia ga mau maafin. Lantas, aku harus bilang apa?
-Ga cape apa,
Mbokde?
-Engga. Rasa
benciku ini ga sebanding dengan apa yang telah ia lakukan dulu. Kamu ga pernah
ngerasain sih, Mut, jadi kamu tahu gimana rasanya.
Waw..sebenarnya,
agak tersinggung aku dengan kata-kata Gina. Siapa yang curhat? Siapa juga yang maido? Ihh. Tapi dengan kata-kata ini
pula aku tersadar, yaa..sepertinya aku memang salah. Selama ini aku melihat
masalahnya dari sisi aku. Aku tak pernah melihat dari sisi dia. Jadi, memang
benar bahwa aku tak menghiraukan perasaannya. Selama ini aku memintanya untuk
selalu memaafkan, sedangkan aku lupa, setiap orang punya batasan maaf
sendiri-sendiri. Dan menjadi lebih salah lagi karena aku selalu memaksanya.
Bodoh, Arin.
Saat itu, aku
langsung teringat dengan sebuah kaidah, bahwa “Orang yang teraniaya lebih
berhak atas keadilan”. Memang tak bermaksud mencari siapa yang salah siapa yang
benar, tapi jika harus ada, maka dalam hal ini Akyun-lah yang bersalah. Lalu
aku mencoba berpikir, dari sisi keduanya.
Aku bilang ke Gina,
“Memang Mbokde, aku tak pernah ngerasain apa yang kmu rasain, jadi aku tak tahu
gimana harus bersikap. Aku Cuma bisa bilang, kalo memang kamu merasa sakit
karena itu, lupakan saja. Kamu memang ga bisa ngelupain rasa sakitnya, jadi
kamu bisa lupain orang yang bikin sakit itu. Mungkin dengan memberi hukuman
akan membuat perasaanmu jadi lebih baik, jadi anggap saja itu sebagai hukuman
buatnya”.
Aku juga bilang ke
Akyun, “Yun, setiap orang punya batasan maaf yang berbeda-beda. Mungkin jika
dalam posisi Gina, aku atau orang lain bisa saja memaafkan, tapi mungkin bagi
dia tidak. Jadi, harap terima jika dia belum bisa maafin kamu, atau bahkan
tidak maafin kamu. Yang penting kamu udah menyesali apa yang kamu perbuat dan
meminta maaf. Kuharap kamu bisa maklumin dia ya...”.
Kuharap aku tidak
salah mencoba memberi keadilan bagi keduanya.
Juli 10, 2012
Ketika Aku Ditantang Masa Depan
Belakangan ini aku jadi rajin berpikir, umm tepatnya kepikiran, tentang apa-nanti-yang-akan-kulakukan dan jadi-apa-aku-nanti dan dengan-siapa-nanti-aku-berbagi.
Pertama, apa-nanti-yang-akan-kulakukan. Maksudnya, apa yang kulakukan setelah lulus kuliah. Ini hampir nyambung dengan poin kedua. Cita-cita. Masih perlukah di umur segini membicarakan cita-cita? Harusnya, itu dulu. Tapi sampai sekarang, aku dibuat bingung oleh diriku sendiri yang ga jelas. Omo! I mean, ga jelas kemana aku mau melangkah.
Mungkin memang sudah terlanjur, jadi tinggal meneruskan saja apa yang sudah kurangkai, atau bisakah aku memulai lagi semuanya? Masih adakah waktu?
Kurasa memang aku harus meneruskan saja. Lelah untuk memulai kembali (atau enggan?).
Kedua, jadi-apa-aku-nanti. Mungkin (di sini akan terjadi pengulangan kata "mungkin") aku akan jadi orang lain, yang sangat berbeda dari diriku yang asli. Mungkin aku akan jadi superman, wonder women, saras 008, atau Xena. Yang penting jadi apa pun aku nanti, aku berharap, itu bisa menjadi suatu kebanggaan dan pantas dibanggakan. That's the point!
Ketiga, dengan-siapa-nanti-aku-berbagi. Pembahasan ini yang paling aku ga ngerti. Pertama dan Kedua bisa kurencanakan. Tapi yang ini? I have no idea.
Dulu, aku terlalu susah untuk move on gara-gara terbayang masa lalu. Sekarang, aku sudah move on, tapi tak tahu mana yang akan kutuju. Tak bermaksud untuk membuat berbagai pilihan, tapi ada beberapa 'opsi' yang memang harus dipilih satu. Maka pertimbangan demi pertimbangan harus dilakukan.
Lalu keyakinan harus ditegaskan.
Kemudian keputusan harus diberikan.
Semua tak mudah. Apa aku yang terlalu banyak pertimbangan? Bukankah memang harus dipertimbangkan?
Ahh sial...mungkin aku harus tanya Patrick. Terkadang dia bisa jadi sangat bijak.
Pertama, apa-nanti-yang-akan-kulakukan. Maksudnya, apa yang kulakukan setelah lulus kuliah. Ini hampir nyambung dengan poin kedua. Cita-cita. Masih perlukah di umur segini membicarakan cita-cita? Harusnya, itu dulu. Tapi sampai sekarang, aku dibuat bingung oleh diriku sendiri yang ga jelas. Omo! I mean, ga jelas kemana aku mau melangkah.
Mungkin memang sudah terlanjur, jadi tinggal meneruskan saja apa yang sudah kurangkai, atau bisakah aku memulai lagi semuanya? Masih adakah waktu?
Kurasa memang aku harus meneruskan saja. Lelah untuk memulai kembali (atau enggan?).
Kedua, jadi-apa-aku-nanti. Mungkin (di sini akan terjadi pengulangan kata "mungkin") aku akan jadi orang lain, yang sangat berbeda dari diriku yang asli. Mungkin aku akan jadi superman, wonder women, saras 008, atau Xena. Yang penting jadi apa pun aku nanti, aku berharap, itu bisa menjadi suatu kebanggaan dan pantas dibanggakan. That's the point!
Ketiga, dengan-siapa-nanti-aku-berbagi. Pembahasan ini yang paling aku ga ngerti. Pertama dan Kedua bisa kurencanakan. Tapi yang ini? I have no idea.
Dulu, aku terlalu susah untuk move on gara-gara terbayang masa lalu. Sekarang, aku sudah move on, tapi tak tahu mana yang akan kutuju. Tak bermaksud untuk membuat berbagai pilihan, tapi ada beberapa 'opsi' yang memang harus dipilih satu. Maka pertimbangan demi pertimbangan harus dilakukan.
Lalu keyakinan harus ditegaskan.
Kemudian keputusan harus diberikan.
Semua tak mudah. Apa aku yang terlalu banyak pertimbangan? Bukankah memang harus dipertimbangkan?
Ahh sial...mungkin aku harus tanya Patrick. Terkadang dia bisa jadi sangat bijak.
Agustus 23, 2011
Ujian Ramadhan
Gag terasa bulan puasa hampir usai. Udah hari ke 23 nih.
Alhamdulillah yah...?? Subhanalloh,... #ala Syahrini ;p
Alhamdulillah yah...?? Subhanalloh,... #ala Syahrini ;p
Pelajaran apa yang didapat dari hampir menjelang satu bulan berpuasa ini?? aduh, jangan cuma laper ajah deh,... :D.
Oke, aku ngerasa, mungkin ini adalah puasa terberat. Alloh sedang mengujiku. Bukan ujian fisik, tapi ujian batin. Ia menguji, seberapa besar kekuatanku untuk bertahan, dari ego dan keinginan untuk membenci. Ia menguji, seberapa besar kekuatanku untuk bisa memaafkan dan tidak mendendam. Ya Tuhan, ini sangat berat....
Oke, aku ngerasa, mungkin ini adalah puasa terberat. Alloh sedang mengujiku. Bukan ujian fisik, tapi ujian batin. Ia menguji, seberapa besar kekuatanku untuk bertahan, dari ego dan keinginan untuk membenci. Ia menguji, seberapa besar kekuatanku untuk bisa memaafkan dan tidak mendendam. Ya Tuhan, ini sangat berat....
Aku selalu tidak ingin membenci seseorang, as i said before.
Tapi kenyataannya, seseorang telah sangat mengecewakanku dan membuatku terluka. Aku selalu ingin memaafkannya. Aku selalu tak ingin membencinya, dan aku benar-benar berusaha. Tapi, entahlah. Apakah aku terlalu kuat untuk tidak melakukannya atau aku terlalu lemah untuk melakukannya.
Tapi kenyataannya, seseorang telah sangat mengecewakanku dan membuatku terluka. Aku selalu ingin memaafkannya. Aku selalu tak ingin membencinya, dan aku benar-benar berusaha. Tapi, entahlah. Apakah aku terlalu kuat untuk tidak melakukannya atau aku terlalu lemah untuk melakukannya.
Ya Alloh, maafkan saya. Bismillah. Aku harus bisa.
Oia, aku teringat kata Bang Jack (sinetron PPT). Apalah beda antara orang yang kita sukai dan kita benci?? Keduanya hampir tak ada beda. Keduanya dekat dengan kehidupan kita dan selalu hadir di pikiran dan hati kita. Cuma rasanya aja yang beda.
Memang benar kan?? Jadi, kita memang harus mengubah cara pikir kita dulu. Think positive! Itu akan sangat banyak membantu.^^
Bisous...bisous.... **
Maret 09, 2011
Tuhan-Alam-Manusia
Saya ingat beberapa saat yang lalu, ada seseorang yang cerita kepada saya mengenai Tuhan, alam, dan manusia. Antara alam dan manusia, yang lebih dahulu diciptakan oleh Tuhan adalah alam. Dan ternyata manusia itu diciptakan paling belakangan, dan masa hidupnya di dunia ini cuma sebentar banget.
Jadi misalkan Tuhan itu menciptakan dunia ini menjadi 12 bulan, Januari-Desember, maka alam itu diciptakan pada tanggal 1 Januari. Lalu dinosaurus diciptakan tanggal 26 Desember, dan kemudian tanggal 27 Desember dinosaurus itu dimusnahkan. Baru kemudian Tuhan menciptakan manusia pada tanggal 30 Desember. Padahal tanggal 31 Desember dunia sudah tamat.
Terus terang saya jadi merinding. Dengan masa hidup yang sesingkat itu, kenapa kita masih saja berlaku sombong, tak pernah menggunakan akal kita? Mungkin kita selalu menggunakan pikiran kita, tapi kita jarang sekali, bahkan tak pernah menggunakan akal.
Langganan:
Postingan (Atom)