Tampilkan postingan dengan label curhat ga jelaz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat ga jelaz. Tampilkan semua postingan

Januari 13, 2012

Tentang Hidung dan Kecil



Banyak yang bilang kalo aku adalah penganut paham ‘minimalis’. Segalanya berbau mini, terutama badan dan hidung. Hidung itu bagian paling potensial dariku. Paling potensial untuk diejekin. Dan hyuuuhhh,..cape deh. Kenapa pada ngejekin hidungku yang pesek sih. Ini tuh gag pesek. Ini imut. -,-

Buat kalian yang diberi kehormatan mendapatkan hidung pesek, jangan berkecil hati. Nih tak kasih tau ya..sebenarnya hidung pesek itu punya kelebihan. Dia kalo napas irit. Beda ama hidung mancung. Dia napasnya boros. Jadi, kalo ternyata oksigen di dunia ini semakin berkurang kadarnya, itu bukan hanya karena pohon-pohon yang hilang dan polusi yang meningkat. Ini lebih pada meningkatnya populasi orang-orang berhidung mancung. Jadi, salahkan mereka!!! Hahahahahaha. *evil.laugh*

Tapi tapi tapi...orang-orang berhidung pesek akan sangat tersiksa ketika mereka pilek. Bisa dibilang sembuhnya bakal lama, soalnya ‘umbel’nya keluarnya Cuma dikit-dikit. Kalo orang-orang berhidung mancung bakalan cepet sembuh, soalnya bolongannya kan lebih gede, jadi lebih mudah keluar. Hahahahaha. *muntah.aja.sana*

Oia, pernah temenku bilang tentang cewek cantik dan cowok cakep. Cewek yang cantik itu bisa dilihat dari hidungnya yang mancung. Kalo cowok yang cakep itu bisa dilihat dari dadanya yang bidang. Hiaaaaaaaaaaaaa...berarti aku gag ada cantik-cantiknya blassss... *nangis.gulung.gulung*

Aku gag pernah mempermasalahkan perihal hidung dan badan. Sesuatu banget deh, masih diberi keduanya dan alhamdulillah banget yah,..keduanya berfungsi dengan baik. =) Tapi lain kali kalo ada pembagian hidung dan badan, aku akan datang lebih cepet biar kebagian. Bener deh. *sungguh.sungguh* -,-

Januari 10, 2012

Konseling dan Pertanyaan Gag Penting


Kemaren aku konselling sama temen. Dia lagi praktek, memintaku jadi klien. Oke, aku cerita tentang suatu masalah yang sangat mengganjal yang aku tak akan ceritakan di sini. Lha trus ini aku mau cerita apa? Yaitu pertanyaan-pertanyaan gejenya yang keluar dari konteks yang sangat hmmm...ngganjel dan bikin aku hmmm...

Dia tanya, apa yang aku harapkan dari jurusan yang sekarang aku ambil sekarang? Umm, nantinya mau kerja di mana?

Aku kuliah di Pendidikan Bahasa Perancis. Aturan lulus jadi guru. Tapi aku gag tau, aku sepertinya gag mau jadi guru. Aku ngerasa kapok, gag cocok, dan gag pengen jadi guru, apalagi ‘cuma’ guru Bahasa Perancis. Cuma dikatain aja sama murid-murid. Lagian, aku orangnya tak terlalu memusingkan masa depan, ntar mau kerja apa, mau jadi apa. Toh sekarang banyak orang yang kerja yang gag sesuai dengan bidangnya. Jadi, kemungkinan besar, kerjaanku nanti adalah sesuatu yang bukan aku perjuangkan layaknya sebuah cita-cita. Sekedar kebutuhan demi menghidupi diri dan mungkin keluarga nantinya. 

Lalu sebenarnya tadinya kamu pengen jadi apa [cita-cita]?

Sebenernya ada keinginan jadi guru. Tapi kapok gara-gara PPL maren. Ada keinginan juga jadi crew di perusahaan televisi. Ada juga keinginan jadi anchor kaya Najwa Shihab (ngakak dulu) tapi aku sadar butuh keahlian dan pengetahuan luas yang aku gag punya (atau aku yang malas menekuninya?). umm jadi dosen aja kali ya? Kan gag beda jauh dari guru. Lebih enak. Murid [mahasiswa] lebih mudah di atur. Malas ngajar? Tinggal kasih tugas aja... hahahahahaha.

Kamu punya pacar gag sih, Rin?

Lagi jomblo. Kenapa?

Hah??? Kamu tuh sekarang umur berapa? Menuju 24 kan? Trus kamu ntar mau nikah umur berapa?

Ini pertanyaan yang paling geje menurutku. Kenapa kamu jadi ngurusin aku? Sekali lagi, aku gag begitu masalah mau nikah umur berapa. Emang sekarang belum ada calon, lalu mau apa? Tak usah terlalu dipaksakan. Hanya karena omongan orang, jadi gag enak, trus maksa-maksa nikah. Aih, sebodo teuing lah. 
Lagian, sejak kapan ada batas usia wajib nikah? Mengapa menikah, apalagi di usia muda, dianggap sebagai suatu kesuksesan besar sehingga harus dilebih-lebihkan? Mungkin memang bagi sebagian besar orang menikah adalah suatu pencapaian, tapi bisakah untuk bersikap biasa wae? Sepertinya kita perlu mengingat dan mengamalkan kembali pelajaran waktu kita sedang berada di Sekolah Dasar: saling menghargai. Menghargai orang lain terhadap segala keputusannya atas dirinya, terutama untuk menikah di usia yang dikehendakinya, atau bahkan tidak menikah.

Jadi, kamu beneran jomblo???

Ciaaaaatttt...jurus lempar kunyuk sembunyi bokong.... Iya. Saya jomblo. Kenapa? Salah? Kenapa kamu mengucapkannya seolah jomblo adalah sebuah dosa besar? My oh my... Aku pernah beberapa kali menjalin hubungan, tapi ternyata gag berhasil dan bertahan lama. Lalu mau apa? Tapi aku gag kapok. Hanya lebih santai. Hubungan masa laluku memberi banyak pelajaran sehingga aku tak mau terlalu gegabah dengan menyambut baik setiap tawaran yang diajukan laki-laki padaku. Aku kudu selektif. Apa aku salah? Kayanya gag deh ya...???

Kowe ki loro og Rin.

Pancen.

Kowe lanang po wedok eh?

Menurutmu? 

Dan berakhirlah pembicaraan itu. Aku geje banget ya??? Hahaha. Bodo lah.
Oia, satu lagi pertanyaan dari temenku [ini udah keluar dari pembicaraan tadi]. Saat itu aku sedang baca novel dan dia lagi ngerjain tugas. Tiba-tiba aku bilang, “Umm kadang-kadang, aku pengen ngrokok”. Seketika dia berhenti ngetik, melihat [kayaknya melotot deh] padaku.

“Kamu ada masalah apa, Mba?”
“Gag ada masalah apa-apa.”
“Trus, kenapa tadi pengen ngrokok?”
“Emang harus punya masalah ya, kalo mau ngrokok?”
“Ya pasti ada alasannya kan..kenapa pengen ngrokok?”
“Harus ada alasan ya?”
“Iya.”
“Apakah setiap perbuatan itu harus ada alasannya?”
“Iya.”
“Kalo aku melakukannya hanya karena aku pengen dan gag ada alasan selain itu?”
“Ya pasti ada alasannya.”
“Hmm kamu belum baca statusku pasti...”
“Apa?”
“Sering aku melakukan sesuatu karena sekedar ingin melakukannya, meskipun gag selalu benar. Tapi kau paham, kan? Aku ingin ‘bersenang-senang’...”

Dia bingung. Aku tersenyum. Lalu melanjutkan aktivitas masing-masing.

Orang-orang yang Aku Kagumi


Sejujurnya, aku ini orang yang mudah iri dengan apa yang bisa dilakukan orang lain, sedangkan aku tidak ;o. Kalo bahasa Jawanya ‘merinan’. Aku menyadari banyak kekurangan pada diriku, karena itulah rasa ‘iri’ itu muncul. Aku selalu pengen dan iri kalo ada orang lain bisa bobo nyenyak sampe berjam-jam, aku iri pada orang yang mahir maen gitar, pinter menjelaskan sesuatu, pinter nggambar, pinter membagi waktu, pinter ngatur duit, dan yang paling bikin aku iri adalah kalo ada orang yang selalu semangat menjalani hidup.

Dan pada orang-orang inilah aku merasa iri:

  1.   Erte. Aku heran, dia bisa-bisanya betah berjam-jam ngadep monitor, lengkap dengan pen-tablet, rokok, dan kopinya, untuk nggambar monster. Dia bisa setengah hari berada di dunianya. Eh, kadang lebih. Hmm emang gitu kali ya, kalo udah nemuin sesuatu yang disukai, bikin kita lupa. Aku aja kalo udah baca novel bisa lupa waktu -,-
    Aku selalu pengen bisa nggambar. Kupikir, menyenangkan sekali bisa menerjemahkan, menggambarkan apa yang ada di pikiran dan imaji kita. Sejauh ini aku hanya bisa nggambar ala anak SD: bebek-rumah-gunung lengkap dengan pemandangannya. Thats all. Sungguh terlaluh...
    Itulah kenapa, aku suka fotografi (nyambung gag?). Menurutku, itu gag beda jauh dengan melukis atau menggambar; menangkap dan membekukan sesuatu yang menarik dan indah. Lagipula, bisa dipelajari. Kalo nggambar kan, harus punya bakat dulu -,-. Tapi yaaa,..kendalanya, ternyata menekuni fotografi itu mahal :’) (nyambung kan??engga??nyambung aja deh...)
    Satu lagi yang aku kagumi dari dia, yaitu cara dia menjalani hidup: selalu bersemangat dalam keadaan apapun [ketoke sih, asline yo mboh] ;p. Kupikir, dia juga seorang yang tak ragu dan berani memperjuangkan apa yang diyakininya. Fight your Faith, Teee,.. =)
  2.  Davi. Ko bisa yaaa, dia itu mengingat tanggal suatu peristiwa sejarah, lalu mengaitkannya dengan perstiwa yang lain, dan menemukan korelasinya. Bang! Daya ingatnya kuat dan pengetahuannya juga luas. Yang paling keren, dia bisa membuat suatu hal yang menurutku sulit menjadi rumus sederhana dan mudah dimengerti. Awwww aku pengen seperti itu. Itu seperi Lintang dalam Laskar Pelangi. Aku heran dan pernah sekali waktu bertanya padanya tentang daya ingatnya yang kuat, kenapa bisa begitu? Makan apa? Dia bilang, “Emang benar ko, apa yang dikatakan para ulama, ilmu itu kalo gag diamalkan akan cepet hilang. Jadi sebisa mungkin kalo aku dapet ilmu baru, aku akan share dan diskusikan dengan teman-teman,..” Hmm...hmmm.. *manggut.manggut* =)
  3. Gina. Dia sahabat baikku. Dia itu selalu bisa membagi waktu. Selama kuliah, dia teman mainku. Kemana-mana bareng. Herannya, kenapa dia bisa lulus duluan? Padahal dia kan juga sama ama aku, cah dolan. Itulah hebatnya. Dia bisa memilah, dolan dan kuliah. Sekarang dia udah S2 dan kerja. Aku? S1 aja gag kelar-kelar.... =)
    Sungguh terlaluh...
    Yang aku heran, dia selalu ada perencanaan, dan selalu terlaksana. Teratur. Ko bisa??? Jian, suatu hal yang sangat berkebalikan dan hampir mustahil kulakukan. Baru beberapa hari yang lalu kami sms-an. Eh tiba-tiba dia tanya, “Mut, kalo boleh tau, apa rencana jangka pendek dan panjangmu??” jeng-jeng...pertanyaan sulit. Ahhh,..aku benci pertanyaannn,..[ups, kalo yg ini Patrick]. Ini dia, dia memaksaku untuk bikin perencanaan! Awww... Kata orang, kalo cewek, harusnya bisa teratur. Tapi aku orangnya berantakan dan sakpenake dewe. Nah loh, sekarang aku jadi bertanya-tanya, aku ini beneran cewek ato bukan??? Huaaaaaaaaaaaa..... ;’(
  4. Mas Dani. Dia teman dan sudah kuanggap kakak sendiri. Dia terlihat cuek dan gag begitu peduli pada orang lain, pada keadaan, pada hidup. Tapi suatu ketika, saat aku sedang ada masalah dan curhat padanya, dia menasehatiku. Gag sama persis, tapi beginilah maksudnya kira-kira: “Memang kadang hidup itu gag adil. Sering kamu dibuat kecewa. Tapi yakin, selalu ada sisi baik di balik semua itu. Kamu hanya jangan terlalu cepat menyerah dan terlalu cepat berpikiran buruk karena itu akan mempengaruhi cara pikirmu selanjutnya”. Adem. Dia juga mengajariku untuk bisa memandang sesuatu dari sisi yang berbeda. :’)
    Ahhh,, ternyata aku belum memberi selamat untuk wisudanya di akhir tahun kemarin. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya wisuda juga...walaupun di usia yang tak lagi muda... =)
  5.  Pram. Sejujurnya, aku baru kenal dia, jadi belum terlalu tau tentang dia. Tapi tapi tapi, dia bikin aku iri dan meleleh gara-gara dia jago banget maen gitar. Awwww...kau tahu kan, dari dulu aku pengen bisa maen gitar. Ahh entahlah, i think its so sexy...kakakakakakaak... *guling.guling*


Mereka itu semua temanku. Teman yang bikin aku kagum, bikin aku iri, bikin aku semangat. Eh, maaf, aku mulae lebay ya??? Hahahaha. Gapapa, dikit ini,. =))

Agustus 08, 2011

Sebuah Petuah dari Sahabat

Akhir-akhir ini saya mulai berpikir. Tentang apa saja yang sudah saya lakukan, apa yang telah saya buat, apa yang telah saya capai. Ternyata saya memang belum mendapat suatu pencapaian yang berarti. Usaha saya jalan di tempat. Entah hidup, entah kuliah. Apa saja.
Beberapa teman saya sudah banyak yang mencoba untuk menyadarkan saya. Mulai dari ngomong secara baik-baik, sampai dengan cara penyindiran. Tapi saya selalu ndableg, gag mau tahu.
“Rin, kamu mau lulus tahun kapan?”
“Rin, kamu lulus bareng aku aja ya?”
“Kamu nunggu di DO ya?”
“Kamu tuh gag ngerjain skripsi malah kerjaannya main-main ajah, nongkrong-nongkong gag jelas.”
“Cepet diselesein skripsimu. Biar cepet tenang juga.”
Sindiran yang paling pedes ya ini, “Ayo semangat mba. Kan udah ada hobi baru, yaitu ngopi. Tinggal perluas jaringan ajah, ada yang mau jadi komunitasmu atau engga. Yang jelas sih saya ndak mau.”
Plaaaaaaaaaaaakkk!!!
Saya sakit hati bener ama yang itu. Ndak tahu napa. Tapi saya tetep ndableg. Bodo amat ngurusin. Sampai akhirnya saya dinasehatin teman saya, dan ini bener-bener bikin saya tertohok.
Waktu itu teman saya itu, Cak Amb, mau pergi ke Surabaya. Dia mau cari kerja di sana. Sehari sebelumnya, dia minta ketemu sama saya. Kami memang lumayan dekat. Saya sudah anggap dia sebagai kakak saya sendiri. Dia sering curhat sama saya, walaupun saya jauh…jauh sekali lebih muda dari dia. Dalam obrolan kami, dia bilang sama saya,
“Kita sama-sama berjuang ya yuk.. awas lho, setelah tak tinggal kamu harus lebih rajin. Jangan malah semakin malas. Segera selesein apa yang perlu diselesein. Aku pengennya kita sama-sama sukses. Aku gag suka kalau aku sukses sendirian. Teman saya juga harus sukses. Kalau aku liat ya, kamu tuh selama ni nyantae banget. Itu gimana?”
“Hehehe,. Memang saya ini orangnya kaya gini cak. Nyantae. Mmm.. jadi gini cak. Aku bisa aja rajin, cepet nyelesein skripsi dan lulus. Dan itu bisa banget. Cuma masalahnya, aku tuh sama sekali gag ada semangat, greget buat itu. Itu yang sampai ini aku cari cak. Aku juga gag tahu napa aku kaya gini.”
“Ya gag boleh gitu yuk. Kamu harus semangat. Kamu gag boleh nunggu sampai semangat itu datang, tapi kamu yang harus membuat semangat itu. Jadi gini, yang aku takutkan to yuk, kamu itu terlalu nyaman dengan duniamu saat ini, nyaman dengan teman-teman barumu. Jangan sampai kaya gitu.”
Deg!!! Itu yang selama ini saya gag pernah kepikiran. Nyaman. Terus terang, saya kepikiran omongannya.
Saya mulai introspeksi. Hasilnya, saya mulai mengurangi jadwal nongkrong dan ngopi saya. Tetapi untuk masalah malas, saya masih berusaha memeranginya. Ini hal yang sangat susah ;p
Ada hal yang perlu saya jelaskan di sini terkait dengan testimoni dari teman saya. Ngopi=hobi baru?
Sebenarnya engga. Sudah sejak lama saya suka ngopi. Bahkan sebelum saya bekerja di warung kopi. Saya yang memang dasarnya suka sekali main, di sini saya ketemu dengan orang-orang yang suka main pula. Klop. Hebatnya, teman-teman nongkrong saya itu bisa membagi antara kuliah dengan main dan nongkrong, jadi kulia mereka bisa kelar pada waktunya. Sedangkan saya? Jangan ditanya. Kalau sudah keasyikan main, ya sudah… bubar sudah. :D
Itu yang membuat saya masih berada di Jogja, sedangkan teman-teman saya sudah berada jauh di luar Jogja ;p
Okeee… saya harus menata kembali hal-hal yang masih berantakan. Saya juga tidak ingin seperti ini terus-terusan. Ada hal yang saya sadari saat ini,
“Saya gag pernah benar-benar serius melakukan sesuatu.”
Dan itu harus saya rubah. Ada beberapa hal yang saya harus serius melakukannya, dalam hal ini menyelesaikan kuliah.

Semangat!!! :)

Bisous,...bisous,... ***

Agustus 05, 2011

Sebuah Alasan

Seseorang hadir di hidupmu karena sebuah alasan

Mereka datang menawarkan kebahagiaan dan juga kekecewaan

Ada yang sesaat, tapi ada pula yang setia setiap saat

Mereka datang silih berganti, meninggalkan kasih, terkadang juga perih

Namun percayalah,
akan ada seseorang yang datang dan menetap sepanjang masa di hidupmu

Tuhan sengaja membiarkanmu bertemu dengan beberapa orang yang salah,
sebelum akhirnya mempertemukanmu dengan orang yang tepat agar kamu bisa mensyukuri-Nya



Forward note: by Roihatul Firdaus

Bisous Bisous,.. ***

Juli 27, 2011

The Ending,...

Sudah beberapa waktu merasa, ini bukan pertanda yang baik. Tetapi aku terus berharap, hal baik akan terjadi.

Merasa galau ini sudah setebal dakiku, aku mencoba untuk memikirkan semua. Mencoba berpikir jernih, mencoba berpikir positif menyingkirkan segala prasangka buruk terhadapnya. Aku ingin melupakan apa yang sudah terjadi. Pretending everything's Ok. oh, tidak, aku tidak hanya akan berpura-pura, tapi memang akan menyudahi semua ini. I need to get over this.

Bismillah,..
Pada akhirnya, aku merasa tak perlu menyalahkan siapa pun.  Dia, diriku sendiri, Tuhan, atau pun keadaan. Think positive!

Aku, aku hanya ingin tak terlalu terbebani dengan hal-hal yang gag perlu. Bukan berarti ini gag penting. Hanya saja, aku tak ingin terus-terusan terjebak dalam lingkaran kesedihan yang tak tahu ujungnya. Mungkin aku boleh menangis, tapi tidak untuk terpuruk. Aku ingin aku bahagia. Setelah itu, aku ingin melihat kebahagian-kebahagiaan di wajah lain, orang-orang terdekatku; Ayah-Ibu, keluarga, sahabat-sahabat,..dan mungkin saja dia, kalo dia mau.

Dan aku sangat berterimakasih pada Tuhan atas karunia-Nya bahwa aku telah diperkenalkan dengan orang sebaik dia, yang mengajariku tentang banyak hal. Percaya, ada maksud dibalik sebuah pertemuan. Tak ada yang sia-sia.

Saat ini aku hanya berharap agar semua kembali menjadi baik seperti semula, tak ada dendam, tak ada benci. Semoga ia masih bisa memaafkanku dan menerimaku kembali menjadi sahabatnya.
Oia, aku juga minta pada Tuhan agar diberi kekuatan hati. Amin,..



Bisous,...bisous,.... ***

Mei 28, 2011

Obsesi Kami



Temanku sering bercerita mengenai keinginannya untuk keliling dunia. Ia terobsesi dan terinspirasi dari novel yang diliadnya dan pilem yg dibacanya [kayaknya kebalik deh...], Eat-pray-Love. Ia pengen sekali pergi ke Itali. Selain itu, ia juga pengen ke Belanda.

Awalnya aku juga cuma 'oh...iya..ayuk kapan?' tetapi dengan bercanda. Tapi setelah browsing-browsing gag jelas, liad gambar-gambar menakjubkan tentang kedua negara itu, awwwwww......mamaaaaa....aku jadi beneran pengen ke sanaaaaa....... :)))))

Pengen ke Venesia...naik gondola...


Pengen ke Belanda...ke kebun Keukenhof....



Pengen ke Itali...naik pespa..lewat jalan-jalan tikus...makan pizza...gelato.....ummmm,....nyam-nyam...





Hmmm...harus ngumpulin duid dulu nih,..kira-kira, kerja apa yg bisa menghasilkan duid banyak dalam waktu dekat??? Kata temenku, "udah...jadi bandar ajah...ato kalo gag jadi mafia....." =))))
Rencana travelling gila itu adalah rencana jangka panjang. rencana jangka pendek saya adalah kerja keras-cari duid karena bulan besok jatah bayar uang koz, dan bulan depan jatah bayar semesteran... huffffff..... kalo kalian punya semangat yang berlebih, pliz...send it to meeee..... ;))))



Bisous....bisous......

April 20, 2011

Their Comment

Apa kabar hari ini?? teteppp....asseeeeekkk... :))

Gag ada yang pengen saya share-kan hari ini, cuma pengen bilang kalo kata teman saya, blog saya ini LEBAY BANGET!!!!! hahahahahaha

it doesn't matter...opo yo tak pikir????hahahahaha
Ini menunjukkan bahwa secuek-cueknya orang, sebento-bentonya orang, segila-gilanya orang, dan sesese yang lainnya...pasti ada sisi lebaynya. Hahahaha. Gag percaya?? Ngaca dulu sanaa....:))

OK....tetap semangat dan salam LEBAY!!! :))

April 19, 2011

Crazy


MOON OVER MY OBSCURE LITTLE TOWN

Stranger

Stranger

Someone stranger

Standing in a mirror

I can’t believe what I see

How much love has been taken away from me


My heart cries out loud

Every time I feel lonely in the crowd

Getting you out of my mind

Like separating the wind from the cloud


Afraid

Afraid


I’m so afraid

Of losing someone I never have

Crazy, oh crazy

Finding reasons for my jealousy


All I can remember

When you left me alone

Under the moon over my obscure little town

As long as I can remember

Love has turned to be as cold as December


The moon over my obscure little town

The moon over my obscure little town



taken from: Andrea Hirata-Padang Bulan

Maret 30, 2011

Fakta-fakta tersembunyi


Bisa dibilang kehidupanku sekarang cukup baik. Belum sepenuhnya sempurna, masih banyak hal yang aku cari dan belum aku temukan. Tetapi setidaknya aku merasa bahagia. Itu yang terpenting.
Banyak hal sudah kualami. Jatuh cinta-patah hati-kehilangan-persahabatan-dll. Banyak pula yang menjadi pengalaman yang kini jadi pegangan.
Saya ingat, beberapa bulan sebelum ini, saya masih terjebak di dalam kubangan lumpur patah hati (hussss…lebay!). Hingga akhirnya sebuah kejadian benar-benar menyadarkan saya dan berhasil membuat saya membuat janji pada sendiri yang saya tulis juga dalam status FB saya. Isinya, “Berjanji pada diri sendiri… tanggal 10 bulan 10 tahun 2010”.
Sejak saat itu saya benar-benar mengikhlaskan seseorang itu. Saya mencoba mencari kehidupan baru. Dan benar saja. Tuhan mengenalkan saya dengan seseorang. Dia bukan orang baru dalam kehidupan saya. Sudah sejak lama saya tahu dia, tapi baru waktu itu saya mengenalnya. Yup, tahu tapi tidak kenal.
Dia coba ‘nggodain’ dan tanya-tanya. Dia coba pedekate. Mungkin dia memang hanya bercanda. Tapi jangan salahkan saya kalau ternyata saya jadi suka, dan mungkin saya jatuh cinta. Waktunya pas banget… Saat itu saya sedang kosong, dan datanglah dia. Apa saya salah?
Tapi saya sepenuhnya menyadari, saya baru saja mengenalnya, jadi saya belum tahu betul sifat dan karakternya. Saya juga tidak tahu apakah dia serius atau hanya bercanda. Sepertinya iya, tapi sepertinya tidak. Ahh, kenapa semua cowok sama saja??? Memberi janji-janji dan harapan tak pasti… Saya memutuskan untuk mencoba menikmati ini semua. Kalau memang dia serius, ya Alhamdulillah, tapi kalau engga ya mungkin ini intermezzo saja. Saya sudah siap dengan semua resikonya dan saya tak terlalu ingin memikirkannya.
Ohh…are u really sure?
Umm.. mungkin awalnya iya. Tapi semakin hari, napa saya jadi semakin suka sama dia ya? Saya sendiri gag ngerti. Saya jadi penasaran sama dia. Hmmm. Untuk selanjutnya, mungkin apa yang saya lakukan ini adalah hal yang memalukan dan kekanak-kanakan atau apalah. But yes, I’m stalking on him. Ewwwwww…. Konyol sekali kan? Begitulah kalo saya sudah penasaran sama orang. Maksudnya bukan membuntuti dia kemana-mana. Tapi saya coba cari tahu tentang dia lewat FB. Hehehehe.
Apa yang saya dapat? Ini hasil mata-mata saya:
  • Dia itu anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya cewek, adeknya juga cewek. Kalo kata orang jawa, pancuran kapit sendang. Sama juga dengan saya dan adek2 saya.
  • Dia dan kedua saudaranya mempunyai nama panggilan yang mirip, terdiri dari empat huruf.
  • Faktanya, satu keluarga itu, namanya sangat kejawen… sepertinya mereka masih keturunan keraton.
  • Darimana saya tahu itu? Saya tahu dari FB ayahnya, ada nama-nama keluarga besar mereka. Saudaranya yang lain masih ada yang menggunakan gelar RM, Rr… walaupun keluarga mereka engga, tapi nama mereka masih menggunakan unsur jawa
  • Fakta yang terrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr baruu… hehehehe. Saya baru tahu nama panjangnya. Oooooh.. how cute.. lucu banget, kejawen. Hehehehe. . Photobucket
  • Pertanyaan yang paling penting: apakah kamu berteman dengan (FB) ayahnya? Dan jawabannya adalah: tidak. Lantas, ko bisa kamu tahu semua itu? Semua hal itu saya tahu dari FB ayahnya, yang kebetulan banget engga di privat. Hahahahahha.
Ya ampun… mungkin perbuatan saya ini udah keterlaluan, tapi sumpah, saya gag ada maksud apa2 sama dia. Saya hanya pengen tahu saja. Anda semua kan tahu, saya ini sangat gag jelas... That’s all.
Mungkin suatu hari nanti kalau dia nemuin postingan ini (tapi moga ajah engga), saya mo ngomong,
“Sory ya mas, saya benar2 gag bermaksud apa2. Cuma iseng-iseng saja. Kalau kamu gag berkenan dan merasa keberatan, kamu bisa bilang sama aku dan nyuruh aku untuk menghapusnya”.
Photobucket
Huffff…. Kenapa saya bisa begitu konyol seperti ini???
Photobucket

Demi Apa

Malam itu aku tak sengaja bertemu dengannya, setelah sekian lama tak berjumpa. Senang? Tentu saja. Tapi ada rasa sesak, rasa kecewa, entahlah apa nama rasa itu. Yang jelas, ada suatu kesedihan yang entah kenapa tiba-tiba saja muncul ketika melihatnya. Rasa itu datang karena mengingat aku dan dia yang jauh, dan semakin jauh saja. Bukan karena jarak memisahkan, tapi karena hubungan kami yang terputus begitu saja. 

Selama kurun waktu sepersekian detik itu, muncul pertanyaan dalam hatiku,
“Ya Tuhan…kenapa kita sekarang begitu jauh…”

Tapi itu hanya sebentar saja karena saya langsung tersadar, saya harus segera nyebrang! (yeah…saya ketemu dia di perempatan jalan pas mau nyebrang.hehehe) 

Sempat kepikiran lagi sih. Tapi segera kutepis pertanyaan bodoh itu. Aku gag boleh lemah seperti ini, begitu aku terus menyemangati diriku sendiri. Tapi tak urung pertanyaan konyol itu selalu muncul di benakku. Ahh..kuputuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.

Keesokan harinya, aku pergi bareng dengan teman. Kami makan bareng. Kami saling bercerita. Temanku, Tyas, yang adalah berasal dari kota yang sama dengan dia, bercerita bahwa Tyas baru saja bertemu dengan dia. Jleb! 

Kenapa aku merasa sedih? Demi apa? Atas dasar apa? Kenapa tiba-tiba aku merasakan kesedihan yang aneh? Saya sedih karena teman saya bisa bertemu dengannya, sedangkan saya yang ingin sekali bertemu sama dia, belum sempat keturutan. Apa saya kangen? Atau gimana? Saya sendiri heran. Saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya mendefinisikannya.

Maret 21, 2011

Pelajaran


Kemarin, tepatnya hari minggu 20 maret 2011, adalah mungkin hari sialnya saya. Sudah pulang kemaleman, ban bocor, tak ada duit, sampai di kos malah gag bisa tidur gara-gara sakit gigi saya kambuh. Duh!
Kemarin malam, rencananya saya mau main ke tempat teman saya yang punya warung kopi. Ada keperluan hotspotan :D. Maklum mahasiswa, cari yang gratis dan murah saja. Hemat beb… Hehehe. Sebelum pergi saya sudah di wanti-wanti ibu kos agar gag pulang malam-malam. Demi menjaga kepercayaan beliau, jam sepuluh saya sudah siap-siap untuk pulang. Eh, tiba-tiba teman saya sms,
“Rin, ayo nonton live classic rock di Goeboex.”
Oh my… bagaimana saya tidak tergoda? Saya suka sekali music rock, apalagi kalau yang nyanyi si pakde Jon Bon Jovi (saya baru nyadar kalau tenyata dia ganteng bangetttttt…. :D).



Photobucket
Saya pikir, ahh..mungkin gag papa kalau liat bentar saja. :P

Photobucket
Lalu setelah pamitan saya meluncur ke sana. Dari warung teman saya (WTS) ke Goeboex (GB) harus melewati turunan dan menyeberangi sungai. Ini lewat jalan desa. Kalau lewat jalan kota muter jauh banget. Nah, pas sudah nyampe di turunan (FYI: jalannya jelek banget, berbatu dan berlubang) ternyata jalan yang menuju sungai ditutup dan dialihkan ke utara. Walaupun saya ndak ngerti jalan, saya coba telusuri aja. Ehh.. lha ko malah saya sampai di suatu tempat yang saya ndak tahu namanya dan saya ndak ngerti kenapa saya ngikutin aja bapak-bapak yang belok ke suatu gang yang ternyata gang itu jalannya nurun dan buntu. Gelap pula! Jiaaaa…
Di situlah saya merasa ban belakang saya mulai oleng. Kenapa ini? Oh plissss…jangan sampai bocor di tempat seperti ini. Sepi banget. Saya liat, ternyata benar. Saya harus balik arah, mengikuti jalan awal saya tadi (dan itu berarti saya harus jalan naik). Mana kuat saya nuntun motor dengan kondisi jalan naik? Tapi kalau motor dinaikin bisa-bisa bannyaa hancur. Ahh..bodo amat dah. Saya sudah cukup panik dengan kondisi seperti itu (malam-malam, cewek sendirian, sepi, gelap, ban bocor, gag ada duit) dan saya gag mau memperparah keadaan dengan lama-lama memikirkan “saya sebaiknya gimana?”. Sempat kepikiran untuk menelpon teman saya karena (untuk sesaat ) saya panik. Lalu saya sadar, orang saya juga gag tahu saya lagi ada di daerah mana, nanti teman saya gimana nyamperinnya? :D
Saya menelusuri lagi jalan yang tadi saya lewati, sampai ke WTS lagi. Dengan keringetan dan muka melas saya bilang sama teman saya, “Ban saya bocor…”
Menahan tawa, mereka nanya, “Lha dimana?”
“Di deket sungai.”
“Trus sekarang motornya masih di sana?”
“Engga, tuh saya bawa ke sini.”
“Kamu naikin?”
“Hehe. Iya. Mungkin ban dalamnya sudah hancur.”
“Ealah. Napa gag di tuntun aja?”
“Saya gag kuat pakde…tahu sendiri jalannya naik turun.”
Lalu dengan diantar teman saya, saya cari tukang tambal ban. Katanya di dekat Afandi masih ada yang buka. Lalu kami meluncur ke sana. Sama bapak tukang tambal bannya saya diliatin paku yang nusuk ban saya. Ban saya robek parah. Harus ganti. Karena saya gag bawa duit, saya ngutang dulu sama teman saya :D. (Betapa kurang ajarnya saya dan betapa baiknya teman saya itu)
Selesai urusan, kami balik lagi ke WTS. Setelah mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan berjanji untuk segera melunasi hutang saya, saya pamit pulang. Gag jadi nonton classic rock.
Sampai di kos, saya gag bisa tidur. Efek kopi mulai terasa (saya tadi pesan kopi di WTS). Parahnya lagi, sakit gigi saya kambuh. Duh! Saya inget, saya masih punya obat pereda rasa nyeri, tapi saya gag ada makanan untuk dikunyah (saya gag bisa makan obat langsung tanpa ada makanan untuk membantu menelan). Teman-teman saya sudah pada tidur. Satu-satunya makanan yang ada di kamar saya adalah keripik tempe yang mungkin hampir kadaluarsa. Sebodo teuing lah, daripada saya kesakitan terus-terusan, mending makan keripik tempe hampir basi dan makan obat. Bismillah. Moga-moga gag keracunan :D
Dalam perjalanan saya menuju pulau kapuk sambil menahan rasa nyeri, saya coba introspeksi diri. Seharian ini apa saja yang saya lakukan sehingga Tuhan menegur saya dengan kesialan-kesialan ini. Lalu saya sadar, seharian ini saya telah banyak berbohong.
Kebohongan pertama. Dimulai kepada temannya teman saya :P. Jadi ada seorang cowok yang datang ke kos, nyari teman saya, Inem. Si Inem ini gag mau ketemu sama dia. Mereka lagi ada masalah. Dan dikorbankanlah saya. Saya disuruh bilang kalau Inem gag ada di kos. Parahnya, ketika saya nemuin tuh cowok, ada bapak kos di depan. Beliau jelas-jelas tahu kalau Inem ada di kos. Mampus lah saya. Mungkin saya udah dicap sebagai tukang boong ama beliau :/.
Kebohongan kedua. Ketika saya onlen di fesbuk, tante saya nge-chat. Beliau tanya, “Udah sampai bab berapa skripsinya?”
Ngik… saya paling takut kalau ditanyain seperti ini. Bukan takut dengan pertanyaannya. Tapi saya takut karena saya harus bohong untuk menjawabnya. Tolong maafkan saya ya…

Photobucket
Kebohongan ketiga. Sebenarnya bukan bohong sih, lebih tepat dikatakan kalau saya mencoba untuk “curang”. Saya yang awalnya sudah komit untuk gag pulang malam-malam, ternyata tergoda untuk liat classic rock live concert.
Ternyata, kalau dihitung-hitung dalam sehari saja dosa saya sudah banyak banget. Itu baru yang sadar. Yang gag sadar belum dihitung, termasuk yang nggosipin orang, buruk sangka, niat jahat, dll. Ya Tuhan… sepertinya saya harus mulai tobat…

Photobucket